Posts

Showing posts from May, 2021

Rindu Kembali Membara

Image
Rindu akan mati pada suhu dingin ingin bertemu dan pada ruang tak ada cahaya untuk bersua. Sebelum pagi dan sinarnya menabur, saat embun-embun belum kabur, aku menjemur segala rindu yang menjamur. Aku menyeduh kopi tanpa gula dengan bangga. Aroma memabukkannya membuatku lupa pada cahaya berharga. Yang ada dan menjadi omega.  Dan bintang-bintang yang pulang dengan tenang menjadikan rindu sebagai harapan berulang.  Sebelum roda dan aspal berdansa, saat pantai dengan debar yang sunyi menanti debur ombak kekasihnya, rindu kembali mendera dengan nyala yang membara. 

1001 Tahun

Image
Tahun kita punya kekhasan dari perhitungan orang kebanyakan. Dua dari empat angka  itu menjadikan dua puluh dua berharga untuk dirayakan. Sementara mereka menyusuri Mei, kita sebentar lagi hampir sampai.  Hati punya kaki yang mahir mengejar hari. Kita punya hari yang sama dengan mereka, hanya saja jamnya jatuh di peluk malam. Sebagaimana bahagia yang adalah aksara sederhana tentang rasa, berbeda itu unik juga. Seperti pertemuan mata kuliah kalkulus yang tidak melulu membahas persamaan garis, demikian perbincangaan kita tidak selalu tentang rindu yang sulit ditepis. Katamu-kadang berisi perselisihan tentang kehadiran selepas kesibukan. Hmmm...Pada waktu mana kamu merayakan pergantian tahun mereka kemarin? Aku pada kata yang malu-malu dan kalimat dengan debar yang tak terelakkan.

Pada Ceruk Malam

Image
Malam punya ceruk. Pintu di mana rindu ramai mengetuk. Di dalam sana, sang empunya menarik pelatuk dengan sisa batuk; pada rindu yang mana ia tunduk dan bertekuk maaf karena seharian sibuk. Malam punya kepala. Ring pertarungan berkepanjangan antara logika dan hati. Di sudut sepi, sunyi memilih berpuisi tentang perasaan yang naik ke permukaan dan dendam terpendam yang tenggelam. Malam punya kita. Anak-anak kata yang berbicara tanpa koma. Takut kehilangan detik yang dirasa berdetak lebih cepat. Atau sebenarnya menit dan jam melangkah seperti kura-kura, kitanya saja yang berpura-pura tak cukup untuk terhura. Malam punya segalanya. Canda dari bibir cangkirnya membuat kita candu hingga terjaga hingga lupa saat mana cahaya yang lewat dan gelap lari ke barat.

Judulnya Kamu

Image
Judulnya kamu, pada bait-baitnya aku mengaku dan mengadu mau. Aku telah candu. Seperti menyeduh kopi asmara dari cangkir indah suara yang menguar aroma rindu ke segala penjuru. Bagaimana suara membuat seorang jatuh kepada cinta? Sementara puisi adalah bunyi-kata Sapardi. Katakan padaku, pada bagian mana kau tak kutemui. Mimpiku kau penuhi, sepiku kau temani, sedihku kau sudahi, hariku kau warnai. Dan sebenar-benarnya kamu adalah pemenang untuk segala kenang yang menggenang; kemarin, hari ini dan semoga hingga nanti. Aku gemar menceritakan kita pada aksara. Selain karena ingat tak kuat juga supaya ketika masa menjadikannya daluwarsa, kau telah lama abadi dalam puisi-lagi kata Sapardi.

Aku Kamu - Puisi Bisu

Image
Aku kehilangan kata Saat beradu segala rindu yang bertahta Kalimat-kalimat dikutuk mantra Ketika mata bercerita Kamu kehabisan bahasa Saat diam mendendang rasa Sementara sastra tak mampu menyelamatkan kita Dari semesta yang pandai mengumbar berita cinta Aku kamu -  puisi bisu Di suatu senja yang langitnya membiru Jingganya terbang pada harap melayang Pun cakrawala yang biasa menguning terbentang pada ke dua katup tersungging