Kata Kita 5

Oleh: Dewi Lorenza

Sementara aku lelah mengemas kata yang terluka dalam sajak patah

Tawamu dengannya pecah kala mentari merekah

Mengapa pula aku dilanda sedih berbau gelisah

Bukankah seharusnya aku turut bahagia, sebab ini yang kupilih


Adalah aku yang letih merajut kalimat sakit pada tiap bait

Setiap pagi, diri mesti menguping suara parau di antara ragu bahwa aku kuat

Antara hati dan mulutku ada perdebatan tak berujung

Perihal rasa yang masih setia bersarang


Di bawah terik mentari aku mau mandikan segala kesakitan

Beban perasaan tak bertuan yang merasuk pikiran

Basuh aku dari segala debu cemburu, pekikku pada matahari

Sebab, olehnya tubuh suci ini dinodai


Kata kita hirap dalam sekejab

Lantas, masih pantaskah cemburu mengepul asap

Lubang luka kian menganga

Lalu, bagaimana dengan ego yang selalu dipuja



Kupang, 14 Oktober 2020



Comments

Popular posts from this blog

Cinta dan Airmata

Hujan di Akhir Bulan Juni

Pengagum Rahasia 1