Kata Kita 5
Oleh: Dewi Lorenza
Sementara aku lelah mengemas kata yang terluka dalam sajak patah
Tawamu dengannya pecah kala mentari merekah
Mengapa pula aku dilanda sedih berbau gelisah
Bukankah seharusnya aku turut bahagia, sebab ini yang kupilih
Adalah aku yang letih merajut kalimat sakit pada tiap bait
Setiap pagi, diri mesti menguping suara parau di antara ragu bahwa aku kuat
Antara hati dan mulutku ada perdebatan tak berujung
Perihal rasa yang masih setia bersarang
Di bawah terik mentari aku mau mandikan segala kesakitan
Beban perasaan tak bertuan yang merasuk pikiran
Basuh aku dari segala debu cemburu, pekikku pada matahari
Sebab, olehnya tubuh suci ini dinodai
Kata kita hirap dalam sekejab
Lantas, masih pantaskah cemburu mengepul asap
Lubang luka kian menganga
Lalu, bagaimana dengan ego yang selalu dipuja

Comments
Post a Comment