Puan dan Hujan 1

 Oleh: Dewi Lorenza

"Jangan menangis, mereka tak akan peduli dengan air matamu." suara parau Puan, sebab ia sendiri menahan tangis.

"Mataku terlalu perih oleh debu dusta, juga dadaku sesak terbentur udara kotor. Biarkan aku menangis. Kau juga jangan menahannya. Tak apa, aku ada untuk menyembunyikannya untukmu."

Hujan merengkuh Puan yang lelah itu. Keduanya menangis bersama. Meratap menjadi satu-satunya harap ketika kata yang adalah cara telah hirap.

 

Kupang, 8 Oktober 2020



Comments

  1. mantap adik...
    smngat kretifitasnya🌱

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir kak❤


      Siap kak...mohon dukungan doa😇

      Delete
    2. Semangat terus dewi kamu terbaik 😇😇😇😊

      Delete
    3. Siap kak....Kak juga semangat💪😊
      We are the best🌹

      Delete
  2. Yang ini bagus sekali :"))) tersentuhhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir kak☺🤗

      Hujan dekat dengan kesedihahan sebab di sanalah kenangan tumpah🍂🍂

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cinta dan Airmata

Hujan di Akhir Bulan Juni

Pengagum Rahasia 1