Puan dan Hujan 3

Oleh :Dewi Lorenza

Selepas Hujan pergi, Puan sibuk mengeringkan lembar rasa yang basah oleh genang kenangan. Bukan karena ia lupa membetulkan atap harapnya. Hanya saja, ia tak menyangka Hujan datang siang ini. Ditorehnya kembali kata-kata yang terluka pada lembar lusuh dan setengah basah.

"Aku tak mampu menunggu besok untuk bertemu. Terlalu banyak rindu yang kutangggung sendiri" lirih Hujan dengan rasa bersalah.

Puan itu tidak punya alasan untuk marah. Diajaknya Hujan ke lorong sunyi untuk merayakan sepi bersama puisi.

Hujan terlalu gelisah, hingga tak sengaja ia membuat sisa pena itu kembali menodai lembar rasa yang selama ini dijaga.

Lagi, Puan itu lebih memilih meredam geram. Ditawarkanya secangkir senyum untuk Hujan yang menggigil. 



Kupang, 16 Oktober 2020


                                                                    

Comments

Popular posts from this blog

Cinta dan Airmata

Hujan di Akhir Bulan Juni

Pengagum Rahasia 1