Aku Jatuh Dalam Rindu

Oleh: Dewi Lorenza



Waktu memperdayaiku. Baru secuil buah rindu itu kumakan, kelopak-kelopak mawar di mataku tiba-tiba mekar. Dan jadilah aku mawar insomnia yang telanjang dipelototi malam. Aku begitu malu saat mentari mengucap salam.

Aku dikutuk untuk susah melahirkan tidur dan sepanjang hidup aku bersekutu dengan waktu.

Kopi seperti roh yang bangkit dari mati; mengacau alam pikirku yang tadinya damai, memaksaku melihat dirimu yang pergi dan kembali sesuka hati.

Hati seperti kubang neraka; tempat di mana hanya terdengar tangis dan gertak puisi. Luka-luka yang bernanah kata melangitkan pinta pada tinta, agar mereka diampuni dan direstui menikmati kebahagiaan abadi pada kertas putih yang suci.

Semua salahku. Bagaimana aku lupa akan sabda yang berkata; Jangan mengecap buah yang ditanam di tengah-tengah jarak.


Kupang, 25 Januari 2020




Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cinta dan Airmata

Hujan di Akhir Bulan Juni

Pengagum Rahasia 1