Hingga Hidup Mawar Hirap?
Oleh: Dewi Lorenza
Diri didera duri rindu dari mawar di dada; yang harusnya mekar. Tetapi engkau biarkan sukar dengan hadirkan belukar. Aku di ujung lelah sendirian. Kadang, saat dengan semangat merawat, rerumput kau biarkan menghimpit.
Tuan, bukan aku menginginkan, benih itu mungkin tidak sengaja kau jatuhkan dari kantong perhatian sewaktu berjalan berdampingan. Dan aku benci waktu itu peduli.
Kian hari mawar dari benih yang tak sengaja kau jatuhkan tadi makin layu. Sayangnya, di dalamku tak melekat niat jahat untuk mencabutnya saja. Atau aku terlalu bodoh merawat dan membiarkannya tumbuh?
Sejujurnya, aku tidak terlalu pandai memberi cahaya yang cukup saat harap di sekitar mawar itu redup. Masih tidak pedulikah engkau, Tuan? Sampai hatikah hingga gelap benar-benar mendekap; hidup sang mawar hirap.
Kupang, 15 Januari 2020
Thanks for reading๐น❤

��
ReplyDelete๐๐ค
DeleteMantap e enu
ReplyDeleteTerima kasih kk๐น๐
DeleteHueee menyentuh kak T.T
ReplyDelete๐ฅ
DeleteTerima kasih udah mampir kak๐น๐ค