Menu di Rumah Makan Bapak Sapardi
Oleh: Dewi Lorenza
Aku dengan lahap menikmati sajak yang ditanak Bapak Sapardi. Beberapa potong paha kata tak luput dari kerakusanku.
Kuahnya kuseduh abis. Ketika hendak kuambil sayur diksi segar yang ditumis, saudariku menatap sinis.
Tidak pahit?
Pertanyaan macam apa ini, adakah yang lebih menggoyang lidah dari diksi yang ditumis terasi. Bagaimana ini tidak menjadi menu favorit direstoran mahal di Indonesia yang hampir semuanya telah saudariku kunjungi?
Tidak mau mengganggu ritual makanku, kuajak dia untuk ikut bersantap.
Makanlah, biar engkau paham manisnya sayur diksi yang ditumis terasi. Kalau nanti aku menjadi koki, ini menu yang kusuguh tiap hari untuk anak negeri.
Pelan-pelan dikunyahnya. Beberapa waktu kemudian, ia muntah dimabuk kata. Aku tersenyum riang, aku membenarkan perkataan siang; diksi yang ditumis terasi nutrisi terbaik untuk tubuh puisi.

Comments
Post a Comment