Secepatnya; Sedekat Nadi dan Mati

Oleh: Dewi Lorenza

Aku terus bersajak supaya tak secuil niat beranjak ketika kau sibuk sesibuknya. Mencoba meredam ingin yang bergejolak. Aneh sudah pasti, sebab aku yang bukan siapa-siapa merasa harus menunggu meski menurutmu tak perlu. Mantra mana yang telah kau daraskan hingga aku terus bertahan? Atau langkahku yang tak sadar mengarah padamu?

Tiada henti berpuisi agar tak sepi saat tak kudapati dirimu di sini. Mencoba menyembunyikan luka di balik kata. Hingga benar-benar terluka ketika lupa kau baca. Jika suatu hari puisi tak lagi berarti, kuharap kamu yang masih setia menikmati; mungkin yang lain telah bosan dengan ketidakpastian sajak-sajak penantian.

Melelahkan ya, perdebatan logika dan hati tiap hari tak jua usai. Belum lagi antara aku dan saudari yang begitu mencintaiku, yang sangat menyayangi diri ini yang sudah jatuh dan kau malah makin menjauh.

Aku suka Januari; mula mimpi bersemi, penuh imaji segala rencana jadi nyata, halu mampu bersatu, rindu akhirnya bertemu. Itu semua; kita, secepatnya sedekat nadi dan mati.

Kupang, 16 Januari 2021

Thanks For Reading❤🌹

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cinta dan Airmata

Hujan di Akhir Bulan Juni

Pengagum Rahasia 1