Senja di Ujung Jalan

Oleh: Dewi Lorenza



Senja mengejar masuk hingga ke pondok. Ia menyapu wajah rapuh dengan uap-uap kata yang baru ditanak.
 
Adik kecil yang duduk di pojok awalnya malu-malu, akhirnya menyapa ramah dan memilih duduk di tengah-tengah. Aku iri dengan beraninya yang lihai merajut kata pada bait cerita bisu.

Di luar, kesibukan berlalu-lalang. Beramai ingin usai sebelum malam datang. Beberapa berteriak agar senja jangan dulu beranjak, sebab dirinya masih berantakan. Tetapi tak seorang mampu menahan kebahagiaan dan keindahan. Selalu sama, senja meminta keikhlasan.

Perlahan, dinginnya ingin dihangatkan angan. Senja yang hilang di ujung jalan tak benar-benar tenggelam. Senja itu hanya melebur pada wajah tenang di sampingku. Kusuap potong-potong sajak kepadanya agar kelak tubuhnya bergizi puisi.

Kupang, 22 Januari 2020









Comments

Popular posts from this blog

Cinta dan Airmata

Hujan di Akhir Bulan Juni

Pengagum Rahasia 1