Rasa Tersisa yang Belum Terbiasa
Ketika kucari puisi, batuk kecilmu mengalun merdu dari memori. Ketika itu, aku belum mengenal sepi hari ini.
Saat kutanya bahagia, spontan wajahmu menyapa. Datang meramai pagi yang tuli, melewati rumah siang si periang juga kedai kata senja si buta menuju perbaringan malam.
Di suatu titik tentu aku berseru, tentang rindu dipundakku yang berseteru dengan waktu. Perihal kamu; rindu tak mampu menunggu pun tak mau hanya bercumbu dalam bisu. Lakukanlah sesuatu, pekiknya sebelum mati bersimbah darah.
Kepada langit kubersimpuh pasrah, tentang mendung yang tak kunjung cerah; tentang sedih yang tak jua sudah. Sengaja kutumpah puing rindu yang telah menjadi debu pada air matanya yang jatuh, tetapi salah. Kau menjauh dan memilih berteduh bersama kekasihmu di warung kopi yang indah.
Kupang, 14 Februari 2021

Comments
Post a Comment