Engkaukah Itu; Empat Musim dari Utara?

Oleh: Dewi Lorenza


Adalah musim panas; sejak Juni, hati yang sepi tanpa penghuni tiba-tiba membara oleh terik perhatianmu. Ruang maya yang harusnya pelindung tulang-tulangku dari kering ikut melebur. Hingga pupusnya Agustus aku hangus sekaligus haus oleh sinarmu.

Adalah musim gugur; kamu mahir membakar, aku benar-benar hancur. Rasa dan asa bersamamu gugur sebelum bertempur. Cukup lama kuheningkan cipta untuk rasa dan asa yang terluka.

Adalah musim dingin; akhir tahun yang melelahkan. Kuratapi rasa yang membeku pada waktu, rindu yang membatu pada sikapmu, diri yang kedinginan saat kenangan berjatuhan.

Adakah kamu menggenapi Empat Musim dari Utara? 

Sudahlah, aku pasrah kini. Entah kamu menjadi musim semi; sejak Maret hingga Mei nanti, aku tak ingin lagi memprediksi dan cukup bagiku berpuisi. Bukan tak peduli, hanya tak lagi menyakiti dengan ingin terlalu tinggi.

Kupang, 13 Februari 2021

Comments

Popular posts from this blog

Cinta dan Airmata

Hujan di Akhir Bulan Juni

Pengagum Rahasia 1