Lilin Penyair
Oleh: Dewi Lorenza
Pada tenang lilinnya yang terang
Mantra mata penyair mencipta kenang tentang kelahirannya
Dari kedalaman jiwanya sesuatu tengah bercerita dalam bahasa hening
Kisah kasih yang tak terurai bibir, sebab itu bibirnya memilih bisu tak bergeming
Juga terlalu suci untuk didengar telinganya yang tuli
Sebab kisah itu dikisahkan dan hanya mampu didengar HATInya.
Tubuh lilinnya perlahan meluruh
Doa-doa dari ketinggian ingin penyair meleleh
Bak air bah yang mengiring dari lembah resah
Menyatukan baranya luka pada lautan pasrah
Sebelum lilinnya benar-benar mati, ditaburinya AMIN penuh IMAN.
Pada akhirnya lautan dari lelehan itu mati membeku
Seperti kutub yang terbujur kaku karena kehilangan mentari
Penyair beranjak, membawa luka dari doanya untuk dipaku pada sajak, hingga wafat dan bangkit menjadi bahagia di hari esok
Pada hari jadinya, penyair berteman sepi dengan lilin yang meneranginya mencari kata-kata yang pergi. Beberapa kalimat sakit diikatnya pada gulungan kemarin.
Pada hari jadinya, lilin penyair mengepul asap-asap asa pada langit keabadian. Sebagai ungkap harsa sekaligus angannya hidup seribu satu kali lagi di tubuh puisi.
Kupang, 21 Februari 2021

Semngat selalu adik💪
ReplyDeleteSemngat selalu adik💪
ReplyDeleteSiap kae🤗
DeleteHappy Birthday Dewi🤗
ReplyDeleteSukses selalu dalam berliterasi
God Bless You🥳😇
Thank u Newer☺🤗
DeleteAmin🙏