Seorang di Seberang Jalan

Adakah puisi juga memenuhi kepalamu? Hingga kau memilih melangkah santai, menikmati detik-detik bersama senja yang hendak kembali.
Sesekali kulihat sepupu yang menjauh di depan lalu menengok dua kawan yang mengikutiku dari belakang.
Menunggu atau mengejar?
Awan beranjak entah mengejar ataukah menunggu? Dedauanan bergoyang. Kendaraan berlalu-lalang. Burung-burung terbang.
Siapa menunggu dan mengejar siapa?
Aku berpuisi sepanjang jalan. Pikiranku ikut terjebak pada pertanyaan what if-nya Adele, tokoh dalam sebuah novel yang kubaca semalam.
Bagaimana jika aku menunggu? Bagaimana bila aku mengejar?
Rembulan naik ke peraduan malam berbisik; tak ada yang kebetulan. Ada fase dimana menunggu dan mengejar.
Parahnya menunggu meski tidak tahu apa yang ditunggu. Mengejar? Ia tidak pernah berujar. Ah, sudahlah mungkin ini sudah jalannya.
Tak perlu mengejar pun menunggu.
Lantas?
Menikmati, bisik suara hati.
Baiklah ini jalannya yang membawa aku dan seorang di seberang tadi sampai pada persimpangan temu.
Comments
Post a Comment