Pada Ceruk Malam



Malam punya ceruk. Pintu di mana rindu ramai mengetuk. Di dalam sana, sang empunya menarik pelatuk dengan sisa batuk; pada rindu yang mana ia tunduk dan bertekuk maaf karena seharian sibuk.

Malam punya kepala. Ring pertarungan berkepanjangan antara logika dan hati. Di sudut sepi, sunyi memilih berpuisi tentang perasaan yang naik ke permukaan dan dendam terpendam yang tenggelam.

Malam punya kita. Anak-anak kata yang berbicara tanpa koma. Takut kehilangan detik yang dirasa berdetak lebih cepat. Atau sebenarnya menit dan jam melangkah seperti kura-kura, kitanya saja yang berpura-pura tak cukup untuk terhura.

Malam punya segalanya. Canda dari bibir cangkirnya membuat kita candu hingga terjaga hingga lupa saat mana cahaya yang lewat dan gelap lari ke barat.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cinta dan Airmata

Hujan di Akhir Bulan Juni

Pengagum Rahasia 1