Kopi dan Sepotong Senja
Aku menatap pada atap-atap malam yang gelap. Sesekali menguping derap langkah, berharap itu engkau yang mengendap-endap.
Lalu, pada angin yang lewat kau titip pesan bahwa engkau harus pulang ke kasur sunyi yang senyap, tempat bunga tidurmu menetap dan terlelap.
Aku meratap. Sayap-sayap bayang tak lagi kudekap. Sayup-sayup suara perlahan hirap, padahal belum sempat daun telinga serap.
Sebelum kembali kepada bisu, kukafani lagi rindu yang terbujur kaku. Bibirnya pucat membiru.
Sial, kopi yang kuteguk dan sepotong senja yang kusantap, ternyata mengandung engkau.

Comments
Post a Comment