Panmuti


Desah ombak terdengar lebih gelisah. Meski hawa membawa hangat tubuhnya, tetap saja hati ini menggigil. Terlalu ngilu bagiku kehilangan yang melambai dari tepian sepi itu.

Di gerbang malam, senja mengisyaratkan pamit. Sial, sepertinya aku kalah cepat. Seorang telah datang lebih dulu, membawa serta jejaknya kemarin lalu.

Panmuti bukan lagi sebaik-baiknya tempat menanti. Telah bernoda pantai ini oleh air dari patahan hati juga oleh bongkahan janji yang kian menjadi debu karena belum sempat ditepati.

Aku pulang pada kesendirian, mencoba menemukan kembali pendirian di atas jarak ketidakpastian.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cinta dan Airmata

Hujan di Akhir Bulan Juni

Pengagum Rahasia 1