Kata dan Air Mata Sebuah Pinta
Waktu begitu susah yah diajak berunding. Padahal aku hanya ingin meminjam musim kering dan mungkin sedikit malam yang hening. Untuk berpaling sebentar dari hujan dan badai rindu yang datang terlalu sering.
Media kabar juga masih menghebohkan jarak yang enggan bekerja sama. Padahal aku hanya berharap didekatkan dengan sebuah nama yang telah menjatuhkan cinta sejak jumpa pertama. Untuk kembali merajut kisah yang ditinggal cukup lama.
Lalu, kamu mencoba mengingatkanku yang jarang bersyukur. Katamu, doa adalah tempat paling subur. Di sana, hujan dan badai rindu pun gunturnya akan tersungkur bersama air mata dan melebur pada kata.
Kamu tidak pernah lupa menenangkanku dengan dongeng di suatu kota, tentang kata dan air mata yang pandai melangitkan pinta, hingga suatu waktu sabar akan terbayar dengan bahagia tiada ukur.

Comments
Post a Comment