Posts

Showing posts from September, 2020

Tanyakan Pada Hati

Perihal rasa, jangan kau tanyakan pada mata. Terkadang ia salah membahasakanya. Jangan pula merayu mulut tuk berkata sejujurnya. Karena, ia juga seringkali menjabarkannya terlalu rumit. Terlebih lagi, menanyakannya pada kaki. Sebab, seringkali kaki pura-pura membawanya menjauh. Satu lagi, jangan menanyakannya pada telinga. Karena seringkali yang didengarnya berbeda jauh dengan nyata. Tetapi, tanyakan pada hati. Sebab, ialah ibu yang menjadi muasal segala rasa.  Kupang, 18 Agustus 2020

Haruskah Menyerah Kepada Lelah

Desah nafas begitu resah oleh niat hati yang ingin menyerah pada terjal dan panjangnya jalan penantian. Langkah melemah. Wajah bersimbah keringat lelah. Sementara, istana sebuah rasa bertahta masih terlampau jauh. Haruskah  menguburnya saja dalam tanah. Kanan-kiri jalan berkabut sepi. Nyanyian burung yang biasanya mengiringi tiba-tiba lupa liriknya. Yang ada hanya aku dan batu-batu yang membisu, menunggu dan merindu. Kupang, Agustus 2020

Segalanya Masih Sama

Masih tentang hati yang membisu Enggan menceritakan rindu yang membelenggu Padahal, jika saja ia mau Mungkin waktu berlaku baik merestui temu Masih tentang bibir yang memilih diam Tenggelamkan segala rasa terpendam Jika saja ia tak memilih bungkam Mungkin ia tak dihantui luka tiap malam Masih tentang telinga yang pura-pura tuli Mendengar jerit Puan ingin memiliki Jika saja keyakinan ia tak peduli Mungkin bahagia memdekap keduanya saat ini Dan masih juga tentang kaki yang tidak mau melangkah pergi Meski tahu mencintai adalah menyakiti Meski dengan segala sadar  Di sini bukan tempat cinta untuk mekar Kupang, 5 September 2020

Kini Hanya Ilusi

Senja di suatu masa Pernah menjadi saksi dua insan Yang berjanji sama-sama bertahan Sampai usai menurut usia Harusnya aku bahagia atas kepergianmu Bukankah dengan begitu kau tak perlu mencicipi rasa sakit Kau bisa tenang tanpa melihat laku dunia yang makin jahat Namun, pergimu sampai kini masih menyisakan pilu Senja hari ini aku kembali ke sini Tempat kita pernah menabur mimpi Rasanya kau ada di sini, menggenggam erat jemari, rambutku seakan kau belai lagi Dan kenyataan menyakitkan ialah ketika aku sadar ini hanya ilusi Adakah puisiku sampai ke rumah barumu Puisi tentang sakit dan rapuhnya aku tanpamu Puisi sederhana yang tak lagi berharga di mata pembaca Sebab, mereka bosan menatap  kata yang penuh luka Kupang, 4 September 2020

Cinta Tak Harus Memiliki

Ketika perjuangan tiada dihargai Harusnya aku memilih pergi Tetapi aku tak punya alasan untuk berhenti Menyukai, mencintai dan menyayangimu lagi Harusnya aku mundur Dari rasa yang tak kau biarkan mekar bersama September Mungkin, adakalanya harapan ini pupus bersama Agustus Supaya kubangun lagi dengan yang lebih pantas Jika aku terlalu egois, boleh aku tetap mencintai Aku menyadari beberapa cinta memang enggan dimiliki Entah ini yang dinamakan cinta sejati Atau aku yang terlalu menggantung perasaan ini terlalu tinggi Jatuh cinta sendirian itu menyakitkan Bayang kau tersenyum saja mampu membawaku terbang ke angan Lalu, setelah aku tahu itu hanya pelarian Aku sibuk  merapikan ingin yang berantakan Kupang, 3 September 2020