Bapakku Petani
Selama menanti padinya dituai Pagi sebelum mentari kembali Ia bertamasya ke ladang kopi Hingga senja pulang di ujung hari Ia mengadakan pesta syukuran Ketika telah datang musim penghujan Namun, tak dibiarkannya kami basah-keluyuran Nikmati saja kopi dan jagung yang baru ditanak Ibu di perapian Di bulan Juni surga kecil kami bak tak berpenghuni Aku mengejar mimpi di kota puisi Saudaraku berburu ilmu di dekat Danau Kelimutu Tinggallah Bapak, sanak saudariku yang lain menikmati ubi bersama Ibu Bapakku petani Padinya yang menguning bak emas murni Harta sesungguhnya yang mengenyangkan anak bumi ini Layaknya kasih Ibu yang menjadi sumber hidup rohani Kupang, 30 Maret 2021