Posts

Showing posts from October, 2020

Kata Kita 7

Image
Oleh:  Dewi Lorenza Bukankah tiada yang lebih gila dari kita berdua. Meyusun rencana untuk mendatangkan rindu melanda tiap harinya. Bukankah sudah tidak waras, membanggakan mampu tanpa sapa ke lorong-lorong sepi dengan keras, sementara hati menangis. Padahal kita bisa saja menghentikan kegilaan ini. Tetapi, kita malah menghebohkan ego masing-masing. Adalah kita, yang karena kata membiarkan atma didekap lara. Adakah sehabis kuiris sepotong puisi, kau mau datang berbincang lagi? ♧A.J.S.L♧ Kupang, 25 Oktober 2020

Kata Kita 6

Oleh:  Dewi Lorenza Adalah kepada sajak aku merajuk Ketika bayangmu berkecamuk Cuek Adalah kepada bait-bait sakit aku meratap Kala nyata tak sesuai harap Tak menatap Adalah kepada puisi aku menyesali memilih jatuh Saat kudapati langkah menjauh Hanya singgah Adalah tentang luka kata bercerita Tak lagi cinta Kita Kupang, 18 Oktober 2020

Untuk Seorang Puan yang Tengah Merajut Ingin di Kota Dingin

Image
Oleh: Dewi Lorenza //1 Nanti jangan sampai saling melupa, di suatu senja janji diikrar Entah karena sibuk atau disengaja kita jarang bertegur Lalu, jadilah beberapa rindu terkapar tanpa kabar //2 Nabastala kiranya setia menjadi saksi Engkau dan segala tentangmu tak kulupa Lantas mengapa telat mengucap selamat untukku? begitu mungkin pikirmu //3 Namamu, seberapa sering kulangitkan ke hadirat-Nya tak perlu kau tahu Engkau hanya perlu percaya aku melakukannya selalu Love you //4 Nel, selamat ulang tahun dari jauh Engkau diselimuti bahagia Lama di bumi dan sehat selalu //5 Nestapa menghilang dan harap menyala terang Engkau diberkati tenang dalam segala gamang Luka dan sakitmu hari ini berbuah masa depan gemilang Selamat Ulang Tahun sayang❤🤗 Kota Karang, 17 Oktober 2020

Puan dan Hujan 3

Image
Oleh : Dewi Lorenza Selepas Hujan pergi, Puan sibuk mengeringkan lembar rasa yang basah oleh genang kenangan. Bukan karena ia lupa membetulkan atap harapnya. Hanya saja, ia tak menyangka Hujan datang siang ini. Ditorehnya kembali kata-kata yang terluka pada lembar lusuh dan setengah basah. "Aku tak mampu menunggu besok untuk bertemu. Terlalu banyak rindu yang kutangggung sendiri" lirih Hujan dengan rasa bersalah. Puan itu tidak punya alasan untuk marah. Diajaknya Hujan ke lorong sunyi untuk merayakan sepi bersama puisi. Hujan terlalu gelisah, hingga tak sengaja ia membuat sisa pena itu kembali menodai lembar rasa yang selama ini dijaga. Lagi, Puan itu lebih memilih meredam geram. Ditawarkanya secangkir senyum untuk Hujan yang menggigil.  Kupang, 16 Oktober 2020                                                        ...

Kata Kita 5

Image
Oleh:  Dewi Lorenza Sementara aku lelah mengemas kata yang terluka dalam sajak patah Tawamu dengannya pecah kala mentari merekah Mengapa pula aku dilanda sedih berbau gelisah Bukankah seharusnya aku turut bahagia, sebab ini yang kupilih Adalah aku yang letih merajut kalimat sakit pada tiap bait Setiap pagi, diri mesti menguping suara parau di antara ragu bahwa aku kuat Antara hati dan mulutku ada perdebatan tak berujung Perihal rasa yang masih setia bersarang Di bawah terik mentari aku mau mandikan segala kesakitan Beban perasaan tak bertuan yang merasuk pikiran Basuh aku dari segala debu cemburu, pekikku pada matahari Sebab, olehnya tubuh suci ini dinodai Kata kita hirap dalam sekejab Lantas, masih pantaskah cemburu mengepul asap Lubang luka kian menganga Lalu, bagaimana dengan ego yang selalu dipuja Kupang, 14 Oktober 2020

Kata Kita 4

Image
Oleh:  Dewi Lorenza Angin merengkuh tubuh ringkih pelan Diceritakannya kembali rindu yang tak jua bersua tuan Sepanjang hari ia sibuk mencari Membawanya ke sana ke mari, hingga senja memaksanya kembali Bulan kini lebih suka menghilang Tinggalkan bintang sendirian dalam sunyi yang disuguh malam Badai cinta yang kemarin memporak-porandakan dalam diam Sekarang dirasa lebih tenang, adakah ia tak lagi menjadi paling agung? Beberapa raga melangkah pada arah yang berbeda Sebab mereka memahami tujuan dari pertanyaan APA Sementara rasaku masih pada titik yang sama Ia sibuk memecah KARENA yang menjadi jawab dari sebuah tanya MENGAPA                                                                                     Kupang, 13 Oktober 2020

Kata Kita 3

Image
Oleh:  Dewi Lorenza Tentang air yang menganak di pelupuk netra dan mengalir tenang menyusuri lembah pipi yang curam, tak perlu semua orang tahu tentangnya. Biarlah menjadi rahasia malam dengan segala sunyinya. Bahwasanya itu adalah air kehidupan yang melegakan dahaga bagi sebagian raga, salah satunya Puan itu. Suara yang lahir dari benda pipih ajaib hadiah peluh ayah ibunya, meredam gemericik air yang tengah mengalir tenang hingga hirap pada sela-sela sunyi malam. Ada luka tak berdarah yang tak kunjung sembuh pada hatinya yang rapuh. Luka kisah kasih yang telah pisah.                                                                                Kupang, 12 Oktober 2020

Kata Kita 2

Image
Oleh:  Dewi Lorenza Kita seperti konsonan yang butuh satu atau dua vokal untuk menjadi kata yang enak dibaca. Seperti tengah berlomba merangkai lupa yang menjadikan lega, sampai tak kita sadari kita tengah merajut luka. Mungkinkah begini kata melepas kita dari panggung sandiwaranya. Membiarkan enggan menyapa menjadi raja atas segala rasa. Juga rindu yang masih menjadi ratu yang suka membelenggu. Sebaik apa cara kita melupa, ada luka yang harus kita nikmati.                                                                                                         Kupang, 12 Oktober 2020

Kata Kita 1

Image
Oleh: D ewi Lorenza Kata tak lagi membiarkan kita menjadi tokoh utama dalam drama cinta Ia lebih suka  kita berkelana pada padang luka Tak diberinya kita naskah hingga kita tak tahu bagaimana semua bermula Kata tak membiarkan kita bersama barang sebentar saja Ia senang menjauhkan kita pada ranah berbeda Saat sepi tak diberinya sapa hingga kita mencoba untuk melupa Sapa yang adalah tali sebuah cinta dibiarkannya putus sebelum kita diikat erat Ego dianggapnya jagoan paling menawan yang butuh tenaga ekstra dirawat Kini hanya ada rindu menjelma ratu yang suka membelenggu   Kupang, 11 Oktober 2020                              

Puan dan Hujan 2

Image
Oleh:  Dewi Lorenza Kali ini, aku yang memintamu meratap lebih lama, bukan hanya untuk kau basuh bumi ini dari banyaknya debu tipu, aku harap lebih dari itu. Ciptakan genangan di sepanjang jalan, agar suara-suara itu hanyut sampai pada tujuan. Sejauh ini, memang tak kupahami apa yang diperdebatkan oleh si Bunga dan si Lebah, tetapi sepertinya mereka hanya perlu untuk saling mendengarkan. Aku juga tak mengerti senandung burung dari balik pohon yang tak lagi rindang. Mungkinkah ratap kehilangan harap atau ejekan tentang keadilan yang diperjualbelikan. Tetapi, sepertinya banyak yang menyanyi tanpa tahu lirik dan bahkan tak mampu mendalami makna. Menangislah lebih lama. Sembunyikan lagi air mata dari mereka yang tidak peka. Kupang, 9 Oktober 2020

Puan dan Hujan 1

Image
 Oleh: Dewi Lorenza "Jangan menangis, mereka tak akan peduli dengan air matamu." suara parau Puan, sebab ia sendiri menahan tangis. "Mataku terlalu perih oleh debu dusta, juga dadaku sesak terbentur udara kotor. Biarkan aku menangis. Kau juga jangan menahannya. Tak apa, aku ada untuk menyembunyikannya untukmu." Hujan merengkuh Puan yang lelah itu. Keduanya menangis bersama.   Meratap menjadi satu-satunya harap ketika kata yang adalah cara telah hirap.   Kupang, 8 Oktober 2020