Posts

Showing posts from April, 2021

Seorang di Seberang Jalan

Image
Oleh : Dewi Lorenza Adakah puisi juga memenuhi kepalamu? Hingga kau memilih melangkah santai, menikmati detik-detik bersama senja yang hendak kembali. Sesekali kulihat sepupu yang menjauh di depan lalu menengok dua kawan yang mengikutiku dari belakang. Menunggu atau mengejar? Awan beranjak entah mengejar ataukah menunggu? Dedauanan bergoyang. Kendaraan berlalu-lalang. Burung-burung terbang.  Siapa menunggu dan mengejar siapa?  Aku berpuisi sepanjang jalan. Pikiranku ikut terjebak pada pertanyaan what if- nya Adele, tokoh dalam sebuah novel yang kubaca  semalam. Bagaimana jika aku menunggu? Bagaimana bila aku mengejar?  Rembulan naik ke peraduan malam berbisik; tak ada yang kebetulan. Ada fase dimana menunggu dan mengejar.  Parahnya menunggu meski tidak tahu apa yang ditunggu. Mengejar? Ia tidak pernah berujar. Ah, sudahlah mungkin ini sudah jalannya. Tak perlu mengejar pun menunggu. Lantas?  Menikmati, bisik suara hati.  Baiklah ini jalannya yang memb...

Untuk Hati yang Hari Ini Patah Lagi

Image
Teruntuk hati yang disakiti kesekian kali Dengan hati-hati puisi ini dirangkai Tanpa maksud terbangkan diri terlalu tinggi Luka tengah dinikmati pun jalan menuju bintang penuh misteri Jika hari-hari kembali patah Tengoklah mentari yang tak lelah merekah Tak peduli seberapa banyak anak bumi mencintai hujan mendesah Pegang teguh pada petuah Ibu; senyum adalah lekuk yang meluruskan masalah Bila perasaan kembali berantakan Oleh palsunya janji kemarin yang berujunh penyesalan  Jangan kau teguk cita dan cinta bersamaan Supaya ketika cinta memabukkan, citalah yang menenangkan Teruntuk hati yang tersakiti dan hari ini patah lagi Bila esok kembali terjadi Ingatlah bait yang menjadi isi puisi Tidak perlu mencari yang baru dan memulai, kamu hanya perlu mengerti dan memperbaiki

Nanggala dan Lara

Image
Mengapa kau juga bertingkah April? Kukira kita sama-sama memintal tawa dan merajut bahagia sampai akhir cerita. Setelah tentang Seroja kemarin, bukankah telah berjanji untuk selalu baik-baik saja. Lantas, drama apa yang kau mainkan hari ini? Nanggala dan lara Ah, judul yang menyesakkan dada Jika saja bisa aku menjadi buta dan tuli sebentar saja Tetapi, lagi kopi dan puisi memaksaku melihat drama kenyataan yang memilukan Adegan 1: Kami berkekuatan lima puluh tiga anak negara Akan mengabdi selamanya pada samudra Laporan diterima  Usailah adegan pertama  Adegan 2: Layar menampilkan anak, istri dan seluruh pertiwi meratap Adakah setitik harap untuk yang hirap? Bahasa air mata mereka berbicara dalam senyap Adegan 3: Di layar kini hanya ada lautan  tanpa Nanggala yang mengisyaratkan pulang ke pelabuhan Dan sebenar-benarnya diam adalah lautan paling kejam Yang tanpa suara membiarkannya menyelam terlalu dalam Untuk kesekian bulan-bulan bercerita tentang kehilangan menuntut keikhl...

Pesawat Kertas Untuk Kartono

Image
No, boleh kita duduk sebentar. Seperti ritual melingkar leluhur di atas tikar. Seberapa jauh jarak kita mengakar? No, maukah engkau mengatakan yang benar sebenarnya tentang siapa aku di mata dadamu? Tidak harus dengan bahasa puisi indah terangkai No, cukup sederhanakan pecahan hingga kau temui aku dalam bilangan bulat utuh. No, maukah berlari bersama? Bukan hanya pada jalan mulus dari akal bulus untuk mendapat cinta yang tulus No, tetapi juga pada jalan-jalan kami yang bertanjakan melewati lorong-lorong yang dirongrong. No, adakah engkau melihat elang dan karang? Jika saja berani kita merakit jurang, elang dan karang itu kita No; tegar dan terbang. Ah, terlalu sulit aku mendefinisikannya untukmu No. " Selamat Hari Kartini Untuk Kartini Masa Kini. Jadilah Kartini yang Berani dan Bernurani. Langgeng selalu dengan Kartono."- Dewi Lorenza🌻✊

Yang Belum Bisa Kau Sebut Miliknya

Image
Semilir tergelincir entah jalan menuju dedaunan penuh kemewahan atau langkahnya memeluk getir kaum pesisir Seperti dua orang yang jatuh kepada cinta tetapi entah cinta sudah atau enggan jatuh atas ladang asmara mereka Angin kembali bertiup kencang Sesekali nampak seperti Seroja Cinta yang terombang-ambing Dalam kakunya karang menerawang Kemana palung pulang harapan yang terlanjur melayang Dalam bisunya langit biru diam-diam ditatapnya anak bumi yang tengah berangan dengan angin Di atas karang, ia mulai mengarang tentang seseorang yang belum bisa kau sebut miliknya...

Sepotong Senja di Liliba

Image
Jingga temaram di parasnya. Goresan pelangi yang menjadi muara pana dimanja Sepotong senja tenggelam di matanya. Kelopak-kelopak indah berteduh segala keluh.  Langit memerah di bibirnya. Resah terbelah pada lekuk yang merekah. Seperti rerumput yang pasrah tak berembun, dialah tuan dari rindu yang tertimbun di ubun.

Sekiranya Ada yang Mengerti

Image
Sekiranya ada yang mengerti, hujan dan puisi sedekat nadi. Ia peka pada bahasa-bahasa tanpa suara dari tanah yang dahaga. Sekiranya ada yang mengerti, hujan dan kenang paling girang. Ia senang mencipta genang yang menghadirkan linang pada sepasang mata di kota karang. Sekiranya ada mengerti, hujan dan rindu menyatu. Bertaut pada langit mengadu temu yang ditunda kemarin lalu. Sekiranya kamu sadar dan mengerti, hujan adalah aku yang mau memelukmu. Sayangnya, telah berteduh kau bersama kekasih baru bersama aroma kopi yang menambah suasana mesra.