Posts

Showing posts from July, 2021

Seorang Tadi Bukan Aku

Image
Aku sadari, seorang pernah jaya dalam suatu masa Hingga jatuh sedalam-dalamnya kau pada lembah rasa Seorang yang membuat penamu belajar mencari dan mencuri kata dalam air mata Hingga basah dan bernoda kertas yang tadinya suci oleh sejuta aduanmu Seorang yang memilih rumah lain untuk pulang saat kau gigih berjuang Hingga tawamu tahu menangis dalam puisi Sebab, ia pamit dengan senyum yang begitu pahit mengisyaratkan salam di waktu nyiur pantai adalah saksi Seorang tadi bukan aku, karena aku hanyalah pengagum malam, yang menghujani tubuhmu dengan lebatnya kalimat dalam jejatuhan doa.

Panmuti

Image
Desah ombak terdengar lebih gelisah. Meski hawa membawa hangat tubuhnya, tetap saja hati ini menggigil. Terlalu ngilu bagiku kehilangan yang melambai dari tepian sepi itu. Di gerbang malam, senja mengisyaratkan pamit. Sial, sepertinya aku kalah cepat. Seorang telah datang lebih dulu, membawa serta jejaknya kemarin lalu. Panmuti bukan lagi sebaik-baiknya tempat menanti. Telah bernoda pantai ini oleh air dari patahan hati juga oleh bongkahan janji yang kian menjadi debu karena belum sempat ditepati. Aku pulang pada kesendirian, mencoba menemukan kembali pendirian di atas jarak ketidakpastian.

Salah Siapa?

Image
Di kerumunan yang rimbun, Covid  mulai bergotong royong menimbun tetesan embun pelemah imun. Seperti semut yang tak mau kehilangan jatah sebelum hujan-hujan jatuh. Sesak yang berdesakan menjadi sorak paling semarak untuk perayaan kemenangannya. Covid tersenyum lebar sekali. Di balik layar administrasi, vaksinasi menjadi atraksi penuh sensasi.  Yang Hitam Manis menangis, kota kasih yang sering diagungkan kekasihnya itu tinggal kisah. Media kabar yang ramai memperbincangkan; Salah Siapa? -ialah palu paling pilu bagi jiwanya.  Haruskah enam minggu lagi ia terkurung dalam murung? Lantas, bagaimana dengan mimpi yang telah segunung? Ia pulang pada puisi untuk merenung.

Kopi dan Sepotong Senja

Image
Aku menatap pada atap-atap malam yang gelap. Sesekali menguping derap langkah, berharap itu engkau yang mengendap-endap.  Lalu, pada angin yang lewat kau titip pesan bahwa engkau harus pulang ke kasur sunyi yang senyap, tempat bunga tidurmu menetap dan terlelap. Aku meratap. Sayap-sayap bayang tak lagi kudekap. Sayup-sayup suara perlahan hirap, padahal belum sempat daun telinga serap. Sebelum kembali kepada bisu, kukafani lagi rindu yang terbujur kaku. Bibirnya pucat membiru. Sial, kopi yang kuteguk dan sepotong senja yang kusantap, ternyata mengandung engkau.

Di Bandara

Image
Di bandara... Ada datang yang hendak berjuang. Membawa harapan orang tersayang sebagai terang di medan perang. Ada pula pulang yang hendak terbang.  Membawa lembar-lembar yang setengah rumpang atau bahkan buku yang rampung. Dan di bandara yang lain, seseorang menunggu lepas landas. Menggenggam rindu akan pertemuan yang kali lalu kandas oleh rasa yang belum pantas. 

Aku Lupa pada Suara

Image
Aku lupa pada suara, yang sering bersenandung di panggung malam menghibur rembulan sebatang kara. Aku lupa pada suara, yang selalu meramu gembira untuk bintang yang di landa lara. Aku lupa pada suara, yang tak jarang membuat bisuku candu berbicara. Akh, suara. Andai bisa kutuang dalam kopiku yang sepi, akan kuteguk hingga sajak-sajak ramai beranjak.