Posts

Showing posts from December, 2020

Mata Kuliah yang Tak Selesai

Image
Oleh:  Dewi Lorenza Kemarin, kamu menjadi; kata yang paling suka kubaca; lembar favorit dari sekian halaman. Dengan teknik baca memindai pun selalu aku mau berhenti di kata kamu. Pun jika disuruh baca berulang, kata kamu tak akan membuatku bosan. Itu kemarin; betapa gigihnya aku ingin memahami. Jika aljabar perihal; menjabarkan bahagia ketika kita bersua, dan aku punya pilihan; aku ingin hanya mengikuti kelas itu. Tetapi, inilah kehidupan, segalanya harus adil; aku diberi kesempatan memahami bagian lain dirimu yang serumit algoritma. Kamu; mata kuliah. Tak boleh aku absen sekalipun. Tidak bermain denganmu aku kehilangan masa depan, kamu; impian. Kukira, bagian kalkulus padamu adalah tentang ketulusan, nyatanya tiada beda dari kalkulasi semua akal bulus yang di dalamnya luka terbungkus. Dan sejak kemarin pula, aku harus memulai belajar memahami ingin hati memiliki dan logika yang menyuruh pergi. Perihal kamu; mata kuliah yang tak selesai di semester ini. Kupang, 30 Desember 2020

Lembar-Lembar Desember 2

Image
Oleh: Dewi Lorenza 12;10 {rumpang atau rampung} Sederhana, rasaku lapar dan rinduku haus; pertemuan. Tetapi, nyata terlalu kejam hingga aku benar-benar berdaya. Pernahkah kau pikirkan;  Aku akan kenyang ketika kutemui kau masih peduli dan pertemuan yang kulangitkan pada pinta ialah air terbaik mereda dahaga. Jika saja engkau tahu, Desember hanya memiliki dua puluh lembar tersisa; penentu kisah ini akan rumpang atau rampung hingga Januari mendatang. 12;13 {terkapar tanpa kabar} Di tepi jalan, Puan menanti; jumpa yang dijanjikan mimpi Ramai kendara dikuping sepi Jalan kembali ini seolah mati Sebait puisi sakit bangkit Selaksa kata kecewa berkecamuk dalam kepala Sementara getar itu semakin gemetar; ia biarkan aku terkapar tanpa kabar. 12;14 {terlalu tinggikah ingin?} Tentangmu, terlalu tinggikah ingin? Hingga ketika mereka memasung benci; aku malah tak tahu berhenti mengagumi. Perihal kamu, mungkin terlalu anggun hati kusandarkan di persimpangan temu kala itu. Hingga saat mencoba be...

Asa yang Konstanta dan Variabel Rasa

Image
Oleh: Dewi Lorenza Cinta adalah bentuk asa yang konstanta dan variabel dari rasa. Tanpa kujabarkan, kuharap kau paham asaku hanya bersamamu. Oleh karena rasa adalah variabel yang sewaktu-waktu berubah, alangkah lebih indah mendeklarasikannya lebih dulu sebelum lembar terakhir Desember? Agar aku mengerti, adakah ia bersemi di memori Januari atau diganti bersama tahun yang pergi. Dengan begitu, dapat kuputuskan belajar menjadi tahun ternyaman di hidupmu atau kembali ke hari-hari kemarin untuk menyembuhkan hati pada puisi. Sebab, meski asaku sepanjang bulan ini konstanta padamu, asa tak kuasa melawan kehendak semesta. Meski selalu diam-diam kesebut namamu di sepertiga malam, langit kadang lebih peduli pada semoga seseorang yang bukan aku. Mungkin benar, adakalanya asa harus jatuh terkapar untuk kembali lebih tegar. Seperti bintang yang jatuh untuk membawa harap seseorang. Kupang, 23 Desember 2020

Lembar-Lembar Desember 1

Image
Oleh:  Dewi Lorenza 12;1 {asa hari pertama} Desember, aku malu mengucap selamat Sebab, tugas berat sudah siap menyambut Semoga kamu selalu bijak, agar kita bersua Januari dengan baik Desember, semoga pundakmu selalu kuat Menggendong harapan saat gelap teramat pekat Jangan lelah membangun niat saat langkah melambat Hari-harimu kiranya memberi arti Pada sepiku yang menyendiri Hadirmu semoga adalah jawaban segala doa dan rasa yang dilangitkan 12;2 {rindu rumah} Dua mengadu doa kepada Dia Tersebab rasa basah Harap kuyup Kecewa Tawa Dan airmata Meraung bersama guntur Bahkan petir jua khawatir Helai rindu Puan penuh uban Kini rontok dalam rintik Jatuh di tiap ranah Merindu, rumah Salahkah? 12;6 {bikono kisah kasih} Segumpal rasa kini terkapar. Sesak, dalam sebotol pikir. Menyingkirlah, aku lelah. Kenangan datang bergandeng senja. Lekuk jingga indah di wajah menyambut jumpa. Meski saat itu, aku tertipu sebab tak kusangka Hitler ada. Juga begitu banyak mutiara di tahta mata. Sekarang, baya...

Arah Sebuah Rasa

Image
Oleh:  Dewi Lorenza Rasa itu terlalu berat kubawa ke barat. Niatku tenggelamkan saja ia bersama senja. Aku benci; esoknya ia kembali bertahta megah bersama mentari di ufuk timur. Suatu waktu, aku nekad membawa ia ke tuannya di utara. Parahnya, patah lebih dulu menyapa. Aku di telan laut kecewa di selatan. Entah angin apa yang membawaku kembali pada daratan, yang jelas rindu berjatuhan bersama hujan lebat semalam. Aku benci; ia tak kunjung henti. Bagaimana alur alirnya hingga ia tak hanyut saja ke tuannya. Bukankah ini hanya akan mengacau musim panasku, sebab ia haus pertemuan. Perihal rasa; aku kehilangan arah  entah pada musim apa ia bersemi akhirnya.  Aku pasrah. Kupang, 21 Desember 2020 Ctt: Berkenalan lebih jauh dengan penulis, silahkan PC WA : 081237451462

Cinta dan Airmata

Image
Oleh: Dewi Lorenza Tak akan sesakit ini, jika kau bilang sebelum menghilang, jika kau katakan sebelum tinggalkan. Hariku tersiksa sisa kenang pun hatiku sibuk menghalau bayang. Tak akan seperih ini, bila kau sudahi sebelum sedih menghampiri, bila kau akhiri sebelum pergi yang tak kembali. Sebenar-benarnya daun yang jatuh, tak pernah ia mengikhlaskan pisah dari rantingnya. Hanya saja, dayanya terlalu kecil melawan kemauan semesta.  Juga aku, mungkin terlalu tinggi imaji hingga aku lupa bakal jatuh hari ini, kembali pada luka yang kesekian. Aku harus menata perasaan yang berantakan juga menangis mengais bekasnya. Terlalu dekatkah cinta dengan airmata? Hingga tak jarang aku meneguknya bersama. Kopi yang lama kubiarkan, telah mendingin bersama ingin. Puisi tentangmu yang adalah bahagia rasa luka terus meramai dalam sepi. Mungkin Desember terlalu banyak hujan dan aku kuyup sendirian. Sebab, belum kutemu rumah berteduh dan bahu bersandar. Kupang, 20 Desember 2020