Posts

Showing posts from February, 2021

Si Sulung yang Ulang

Oleh: Dewi Lorenza Sebelum usang puisi ini melayang Pada ladang-ladang mata kering dan kosong Bawalah telingamu bergandeng Dengar, ada apa si sulung mengulang mendulang? Si sulung paling ulung Di mata nilai ia tak kurang Lantas mengapa lama terkurung? Tidak . Ia tengah menggendong sayap-sayap yang tak sanggup terbang. Si sulung yang ulang Di hatinya semua sayang Lalu mengapa lamban seperti pemulung? Bukan. Ia bagai gasing kalau ia tak peduli aku yang diasing. Si sulung yang ulang Sarang penuh sayang. Kupang, 24 Februari 2021

Lilin Penyair

Image
Oleh: Dewi Lorenza Pada tenang lilinnya yang terang Mantra mata penyair mencipta kenang tentang kelahirannya Dari kedalaman jiwanya sesuatu tengah bercerita dalam bahasa hening Kisah kasih yang tak terurai bibir, sebab itu bibirnya memilih bisu tak bergeming Juga terlalu suci untuk didengar telinganya yang tuli Sebab kisah itu dikisahkan dan hanya mampu didengar HATInya. Tubuh lilinnya perlahan meluruh Doa-doa dari ketinggian ingin penyair meleleh Bak air bah yang mengiring dari lembah resah Menyatukan baranya luka pada lautan pasrah Sebelum lilinnya benar-benar mati, ditaburinya AMIN penuh IMAN. Pada akhirnya lautan dari lelehan itu mati  membeku Seperti kutub yang terbujur kaku karena kehilangan mentari Penyair beranjak, membawa luka dari doanya untuk dipaku pada sajak, hingga wafat dan bangkit menjadi bahagia di hari esok Pada hari jadinya, penyair berteman sepi dengan lilin yang meneranginya mencari kata-kata yang pergi. Beberapa kalimat sakit diikatnya pada gulungan kemarin. P...

Rindu Adalah Ibu

Image
Oleh: Dewi Lorenza Rindu adalah  ibu yang menunggu pulang di dekat tungku Menanak pilu dengan air mata Meniup bara dengan doa Hingga pilu matang dan nyala menyisakan arang Rindu adalah ibu yang kesepian di ranjang kenang Menguping  bincang bintang-bintang Tentang palung yang hilang Hingga gugus bintang pulang dan ia memeluk mimpi yang gamang Rindu adalah ibu yang mengadu dalam diam Membenam lelah pada  mata terpejam Merayu malam yang menaruh dendam Hingga malam makin kelam dan ia tenggelam dalam lukanya yang karam Kupang, 16 Februari 2021

Cinta Bersama Luka

Image
Oleh: Dewi Lorenza Adalah pada hati yang sabar  'kan kau temui debar paling tegar,  menikmati tiap rindu yang mengalir. Adalah sedih paling susah  ketika kau menjauh  dari rinduku yang jatuh. Adalah suka rasa duka  dia menjadi muara harsa  untuk laramu yang menderita Adalah cinta bersama luka  ketika namamu terpaksa kulepas ikhlas  dalam doa yang kulangitkan bersama air mata Kupang, 15 Februari 2021

Rasa Tersisa yang Belum Terbiasa

Image
Ketika kucari puisi, batuk kecilmu mengalun merdu dari memori. Ketika itu, aku belum mengenal sepi hari ini. Saat kutanya bahagia, spontan wajahmu menyapa. Datang meramai pagi yang tuli, melewati rumah siang si periang juga kedai kata senja si buta menuju perbaringan malam. Di suatu titik tentu aku berseru, tentang rindu dipundakku yang berseteru dengan waktu. Perihal kamu; rindu tak mampu menunggu pun tak mau hanya bercumbu dalam bisu. Lakukanlah sesuatu , pekiknya sebelum mati bersimbah darah. Kepada langit kubersimpuh pasrah, tentang mendung yang tak kunjung cerah; tentang sedih yang tak jua sudah. Sengaja kutumpah puing rindu yang telah menjadi debu pada air matanya yang jatuh, tetapi salah. Kau menjauh dan memilih berteduh bersama kekasihmu di warung kopi yang indah. Kupang, 14 Februari 2021

Banjir Cokelat

Image
Oleh: Dewi Lorenza Kasih sayang berhembus tenang memenuhi ruang. Marah yang paling periang diguncang hingga garang girangnya hilang. Benci seketika beku terkutuk mati Sang Waktu. Hari diliputi ramai paling damai. Pagi sekali, gemuruh kasih terdengah riuh. Beberapa kekasih masih sibuk memilih pelengkap kisah yang indah. Sebagian lagi bersolek agar menjadi paling molek. Sedangkan di balik dinding yang kuat dan rapat Puan lelap dalam kalut. Menjelang tengah hari, sorak itu berserak di mana-mana, kecuali tempat Puan yang memang tertutup rapat. Puan dililit liputan tentang telah kembali abadinya St. Valentine di hari ini. Tepat hari ke empat belas Putri Februari dimahkotai, banjir cokelat dari muara sungai ibu dan  anak sungai, dari lembah-lembah kekasih bagai air bah yang menggenang menjadi kenang. Kupang, 14 Februari 2020 *HVD

Engkaukah Itu; Empat Musim dari Utara?

Image
Oleh: Dewi Lorenza Adalah musim panas; sejak Juni, hati yang sepi tanpa penghuni tiba-tiba membara oleh terik perhatianmu. Ruang maya yang harusnya pelindung tulang-tulangku dari kering ikut melebur. Hingga pupusnya Agustus aku hangus sekaligus haus oleh sinarmu. Adalah musim gugur; kamu mahir membakar, aku benar-benar hancur. Rasa dan asa bersamamu gugur sebelum bertempur. Cukup lama kuheningkan cipta untuk rasa dan asa yang terluka. Adalah musim dingin; akhir tahun yang melelahkan. Kuratapi rasa yang membeku pada waktu, rindu yang membatu pada sikapmu, diri yang kedinginan saat kenangan berjatuhan. Adakah kamu menggenapi Empat Musim dari Utara?  Sudahlah, aku pasrah kini. Entah kamu menjadi musim semi; sejak Maret hingga Mei nanti, aku tak ingin lagi memprediksi dan cukup bagiku berpuisi. Bukan tak peduli, hanya tak lagi menyakiti dengan ingin terlalu tinggi. Kupang, 13 Februari 2021

Hari Ini Siapa yang Mau Menemani?

Image
Oleh: Dewi Lorenza Literasi menjadi lorong sunyi. Seorang pun enggan melewati. Padahal, di sanalah awal menuju langit sejuta mimpi. Literasi menjadi lorong paling sepi sejak hari itu. Padahal, sebelumnya sangat ramai oleh kaum yang haus akan ilmu. Sekarang aku juga agak jarang berkunjung. Hanya sampai perempatan kota kata aku memulung. Terakhir kali, aku mendapat ngengat semangat memahat di kubu buku. Bagaimana kabarnya? Ah, mungkin sudah menjadi renik seni. Sejak semalam, aku ingin kembali. Hari ini, siapa yang mau menemani? Sepertinya, aku harus merayu penyair mahir dan amatir untuk membangunkan puisi yang lama mati. Juga pemuda yang lupa membaca adalah surga dunia. Kupang, 12 Februari 2021 *Literasi dalam puisi ini lebih kepada membaca. 

My Soulmate

Image
By: Dewi Lorenza Whether we really can't belong to each other or destiny whose game is not over How do we say we are fine while the heart hurts by that line I want to wait for  you in the future It’s just that I’m don’t want  to lose the story this time Every morning,  I try to forget dreams with you last night But the more I tried to forget, I found I was hurt I carried my feelings throughh the day with difficult But I lost and broke again at twilight Maybe right, waiting has become my soulmate Since a long time my heart fell and later if it's too late Kupang, 9 February 2021

Meluruh Menyeluruh Bersama Waktu

Image
Oleh: Dewi Lorenza Mungkin hati akhirnya mampu luruh menyeluruh  seiring waktu yang harinya rapuh satu per satu. Saat akhirnya aku kembali biasa saja menatap namamu tertera dan aku tak lagi bangga bercerita. Telah menua rasa yang kemarin kau biarkan lama terluka. Hingga ia memilih pulang  kepada hilang daripada terus terbang mencari sarang yang berpaling. Tak apa dan bukan salah siapa-siapa. Bukan salahku tak mampu menunggu. Lebih-lebih bukan salahmu tak ingin memiliki. Bukan menyerah, hanya mungkin sudah waktunya mengistirahatkan lelah. Mungkin benar, kemarin kita ramah salah rumah. Yang kita kira betah ternyata sekedar berteduh, tepatnya singgah tak sungguh. Kenangan terlalu suka bersejarah tentang patah pada harap yang salah, nampaknya . Kupang, 8 Februari 2021

Yang Cantik Ialah Hati

Image
Oleh: Dewi Lorenza Bagaimana tidur yang baik hingga bangun tadi kau tetap cantik? Sementara kutahu matamu tenggelam sesaat sebelum mentari mengetuk. Bukankah saat kau bangun, perlu mengumur rindu di mulutmu, mencuci mimpi di wajahmu, juga sibuk menyisir ingin yang rumit di rambutmu. Bagaimana kau tetap cantik dalam waktu sesingkat itu?  Yang cantik adalah hati. Asal ia tidur lebih awal tiap malam dan kau selimut dengan damai dalam senandung Ilahi. Kamu selalu cantik. Yang cantik adalah hati. Seperti mekar melati saat mentari merekah. Warna raga dan wangi jiwa. Kupang, 8 Februari 2020

Bunga Kenangan

Image
Oleh: Dewi Lorenza Bagaimana penyerbukan bunga kenangan? Mungkin peleburan antara hening hari dan pelik kemarin. Bukankah itu melahirkan kepahitan? Tidak. Hanya akan menjadi iya, jika penyerbukan itu dibantu angin ingatan. Sempurna. Tepat sekali! Tidak semua kenangan adalah kepahitan. Tetapi semoga kepahitan itu hanya ada pada kenangan di hujan tanpa kopi kemarin. Lantas, apakah bunga kenangan serupa bunga lainnya, putri malu misalnya. Tidak. Sama sekali tidak. Bunga kenangan mekar semaunya tanpa malu-malu. Lalu... Sudah, simpan kembali bunga keramat itu sebelum semerbaknya memabukan, perintahku pada pikiran. Kupang, 5 Februari 2020