Posts

Showing posts from January, 2021

Karena Cinta Itu Ada

Image
Oleh: Dewi Lorenza Cinta tidak perlu dicari di mana ia bersembunyi. Ia mengerti semua rute yang membawanya kembali. Biarkan saja ia berlari sesuka hati, sampai ia sadar sendiri waktu untuk bermain petak umpetnya selesai. Biarkan saja ia terbang, ia akan pulang pada siapa hatinya bersarang. Sehebat apapun kamu mahir mengejar, tetap bertekuk lutut pada garis takdir. Berdamailah dengan waktu agar kamu tahu cara menunggu. Duduk manis saja layaknya Putri Raja. Ketika cinta datang ia tak berlalu secepat senja, karena cinta itu ada; selamanya. Kupang, 1 Februari 2021

Baik -Baik Putri Februari

Image
Oleh: Dewi Lorenza Gerbang megah Senin terbuka; dayang bayang-bayang melambai menyapa, rinai gerimis menari manis menyambutmu. Selepas Januari mati kau dimahkotai sebagai pengganti; Putri berlimpah kasih sayang yang paling dinanti. Berjalanlah sesukamu; bersama Selasa yang perkasa, Kamis yang manis, Juma'at yang kadang bucinnya kumat. Atau kalau boleh, sekali-sekali rengkuh Rabu yang rapuh juga Minggu yang selalu mengadu rindu. Baik-baiknya ya Putri Februari meski tanpa puisi yang mengunjungimu tiap hari, banyak harap yang puisi titip untuk kau garap; khususnya ladang hati yang kian gersang juga lahan pikir di pinggir kali yang terisolir. Kupang, 1 Februari 2021

Pada Jam Dua Belas; Bukan Waktu Cinderella

Image
 Oleh: Dewi Lorenza Pada jam dua belas Teh di gelasku tandas Si Malas sibuk menampi beras Pada jam dua belas Semut-semut rapi berbaris Mengantri di pagar rumah Si Gula Manis Pada jam dua belas Suara angin menyapa keras Merusak ritual tidur Si Pulas Pada jam dua belas Chatku belum dibaca apalagi terbalas Lava di pelupuk netra kian memanas Wajah langit ikut sedih memelas Pada jam dua belas yang bukan waktu Cinderella, rinduku dikutuk pada centang abu yang tak kunjung biru. Kupang, 31 Januari 2021 Pengumuman: Kepada Kak Santri yang memilih nomor 2 silahkan memberi tema untuk postingan berikutnya. Terima kasih💟

Cintai Saja Hatiku

Image
Oleh: Dewi Lorenza Jangan menyukai mataku; bola hitam kehidupan tenggelam, alis memanjang bak duka tak berujung. Mataku; rumah abadi luka dunia. Jangan menyayangi hidungku; debu resah gelisah di sana. Hidungku; gunung menjulang penghubung kematian. Jangan mengagumi parasku; tanah gersang hanya ada sungai dari mata air air mata yang mengalir darah menyusuri  juarang curam. Parasku; sang bayu menanggung kerinduan pada kehilangan. Cintai saja hatiku; singgasana rasa bersemayam, suara doa malam juga palung namamu terdalam.  Kupang, 28 Januari 2020 Halo readers deepsusi blogspot, apa kabar? Adakah rindu terkapar? Perpanjang sabar. Hehehe... Tiga hari lagi Januari abadi, so dalam ibadah puisi ke 21 bulan ini, saya akan memberi sebuah keadilan sosial..wkwkwk...Jadi, BuMin akan menyediakan 3 kotak lopee... 1.💟 2.💟 3.💟 Silahkan tulis nomor kotak yang kamu pilih di kolkom (khusus 3 komentar tercepat dan tidak boleh milih nomor yang sama) dengan format: #Nama-NomorKotak Ada apa di dal...

Untuk Diriku yang Lain

Image
Oleh: Dewi Lorenza Tiga hari menuju Januari mati Masihkah setia menanti? Belum lihaikah puisi membuatmu mengerti? Ini hanya permainan kata dan ilusimu sendiri Sebenar-benarnya, antara dudukmu dengannya selalu ada sekat Tangannya silang di dada bukan saling menjabatmu erat Matamu yang takut jarang berpaut Bukan hati melainkan harimu saja yang terikat Maukah mendengarku hari ini? Menangkap harap yang terbangnya melangkahi bintang Agar kita tidak dibunuh oleh ilusi sendiri Hingga dikutuk abadi oleh waktu pada luka tak berujung Kupang, 28 Januari

Tindak Nyata; Solusi Untuk Polusi

Image
Oleh: @Junewerz  Fomeni dan Dewi Lorenza Sampah... Begitu buruk rupa kau di hidupku Membuat risau pandangan mata Bernuansa tak sedap hidungku  Seumpama sisa rindu semalam Dibuang Tuan karena jijik menggenggam Koran-koran ramai bercerita tentang negeri dengan sejuta rindu menghiasi Koran lupa tindak nyata, tidak mengerti solusi untuk polusi Kaca mata pun kugunakan  Tak sangka aku melihat rupa Bernyawa melintas di hadapanku Aroma itu pun bertambah Nyawa itu membuang begitu saja tanpa beban Entah si pemiliknya telah hilang pikir atau pura-pura tak sadar  Sehingga dibiarkannya sisa rindu itu menumpuk sepanjang jalan Puan terseok-seok memungut menghalau  Ia mau semua tahu betapa sakit berselimut rindu Haruskah aku menyadarkanmu Nyawamu seakan tak berotak Tuk tempatkan sang aroma busuk itu pada singgasananya Sudahlah, rasanya sudah sampai kesekian kalinya aku utarakan Telah habis kata dan busa bisa bicaraku Biar aku sibuk menyapu menghalaunya setiap hari; semoga bahas...

Mungkin; Padamu Aku Telah Hilang

Image
 Oleh : Dewi Lorenza Hujan berjatuhan Puan meringkuk sendirian Seperti hujan tak sabar untuk kembali ke awan Demikian Puan berdebar menanti Tuan memberi pelukan   Saat hujan berubah gerimis Puan berharap cemas Tak ada tanda-tanda pada bintang Tuan akan datang   Angin dari kejauhan malam berbisik pelan Sembari mengusap Puan dengan sayang Tidurlah, peluk rindumu   yang kedinginan Seperti kemarin, ia tak akan pulang   Adakah di sana engkau tidur tenang? Sementara aku sisa tulang menunggumu pulang Bagaimana matamu terlelap bahagia; bukankah di situ bayangku bergentayang? Hati terdalamku   masih saja menggenggam harapan selepas malam, sementara aku mulai berpikir padamu aku telah hilang Kupang, 27 Januari 2021  

Aku Jatuh Dalam Rindu

Image
Oleh: Dewi Lorenza Waktu memperdayaiku. Baru secuil buah rindu itu kumakan, kelopak-kelopak mawar di mataku tiba-tiba mekar. Dan jadilah aku mawar insomnia yang telanjang dipelototi malam. Aku begitu malu saat mentari mengucap salam. Aku dikutuk untuk susah melahirkan tidur dan sepanjang hidup aku bersekutu dengan waktu. Kopi seperti roh yang bangkit dari mati; mengacau alam pikirku yang tadinya damai, memaksaku melihat dirimu yang pergi dan kembali sesuka hati. Hati seperti kubang neraka; tempat di mana hanya terdengar tangis dan gertak puisi. Luka-luka yang bernanah kata melangitkan pinta pada tinta, agar mereka diampuni dan direstui menikmati kebahagiaan abadi pada kertas putih yang suci. Semua salahku. Bagaimana aku lupa akan sabda yang berkata; Jangan mengecap buah yang ditanam di tengah-tengah jarak. Kupang, 25 Januari 2020

I'm Crying Again with The Rain

Image
By: Dewi Lorenza I want you know My love is as white as snow In what language do I speak? Tell me! So I will study it no break My night is busy looking But, never found I asked a friend around Instead they told me to stop hoping Do you understand the language of poetry? A language that wraps a million meanings in lonely So that I made especially for you Because, I can be crazy to bury my feel for longer I am afraid love as white as snow will become a poinosonous rose that kill my sane cells Clouds filled my eyes Now, I'm crying again with the rain Kupang, 24 January 2021

Malam Mingguku Bersama Puisi

Image
Colab Kedua: Dewi Lorenza dengan @Junewerz Fomeni Ke sana aku terbang Ke sini aku girang Bebas; layaknya seekor burung Mengarungi angin tanpa takut diterjang Tak henti-hentinya aku bahagia Meski harus berpijak sendiri Kadang hal itu memberiku ruang yang tak terbatas menjelajahi dunia Yang penuh misteri Tak jarang sendiriku diserang Bukan musuh bersenapan moncong Tetapi malam minggumu dengannya Haruskah aku begitu pula? Aku hanya terdiam  Saat kau melintasi pandanganku Membuatku terpanah  tak berpaling Entah aku telah tertembak parasmu yang mengalirkan darah kesendirian ini atau halusinasiku saja Bila logika dan hati berseteru kembali Sebaik-baiknya berlari adalah pada jalan panjang puisi Apabila tak sanggup, katakanlah padaku Aku kan berlari bersamamu menuju akhir jalan panjang itu Kupang, 23 Januari 2021

Aku Merindu Bapak

Image
Oleh: Dewi Lorenza Aku rindu saat bersama Bapak. Diam adalah bahasa kami bercerita di sepanjang jalan kenangan. Tetapi, mata kami luar biasa; mampu berbicara. Aku terlalu rindu saat bersama Bapak. Jauh sebelum hari memisahkan kami dengan peluk kekuatan. Saat pikiran kami sibuk menyibak puisi dalam sepi. Tetapi, hati kami saling mengerti; selalu cipta damai. Saat kemarin aku juga merindu Bapak. Menangis sendirian kujadikan pelarian saat sedang jauh aku dari perhatian. Ah, jadi rindu saat air mata yang bicara kepada Bapak saat pagi itu aku ingin berontak pada jarak antara pendapat. Aku kini sangat merindu  Bapak. Adakah di dekatku seorang seperti Bapak? Aku akan memeluknya. Tanganku tak sampai Manggarai; tempat Bapak menanti letihnya dituai. Semoga doa yang kulangitkan jatuh tertabur di Ponto Ara; ladang Bapak berusaha. Kupang, 23 Januari 2020

Senja di Ujung Jalan

Image
Oleh: Dewi Lorenza Senja mengejar masuk hingga ke pondok. Ia menyapu wajah rapuh dengan uap-uap kata yang baru ditanak.   Adik kecil yang duduk di pojok awalnya malu-malu, akhirnya menyapa ramah dan memilih duduk di tengah-tengah. Aku iri dengan beraninya yang lihai merajut kata pada bait cerita bisu. Di luar, kesibukan berlalu-lalang. Beramai ingin usai sebelum malam datang. Beberapa berteriak agar senja jangan dulu beranjak, sebab dirinya masih berantakan. Tetapi tak seorang mampu menahan kebahagiaan dan keindahan. Selalu sama, senja meminta keikhlasan. Perlahan, dinginnya ingin dihangatkan angan. Senja yang hilang di ujung jalan tak benar-benar tenggelam. Senja itu hanya melebur pada wajah tenang di sampingku. Kusuap potong-potong sajak kepadanya agar kelak tubuhnya bergizi puisi. Kupang, 22 Januari 2020

Cinta Hingga Lupa

Image
Oleh: Dewi Lorenza Cinta yang kau kira membara tidak perlu buru-buru kau paksa bersua tuannya. Kadang ia seperti bunglon, berubah kapan saja.  Nikmati saja setiap pergerakannya; rindu yang gemulai, sakit yang melambat hingga gelisah yang lincah. Pada waktunya akan tiba; tanpa aba-aba. Lapangkan dada sebab tak semua tuannya mengakui ia ada. Lepaskan bila yang kau sangka tuannya tak suka pelukan. Cinta selalu punya jalan pulang kepada siapa ia bersarang.   Pada malammu yang sesunyi hati, biarkan saja cinta bernyanyi; menumpahkan gumpal tak berdarah dadanya atau mungkin bersenandung bahagia.  Dengarkan saja ia baik-baik dalam hening, kadang nada-nada sumbang dan riangnya sulit dibedakan. Lirik menarik yang kau suka ternyata bahasanya dalam luka. Cintai cinta sampai kau benar-benar lupa pernah cinta tak sampai. Cintai hingga lupa kau pernah tersakiti tak memiliki.  Biarkan cinta mengerti ceritanya sendiri dalam skenario Dia Yang Maha Cinta. Kupang, 21 Januari 2020

Senandung Rasa

Image
Colab Perdana : Dewi Lorenza dengan @Junewerz_Fomeni Tentang perasaan aku selalu terbuka Dalam detik-detik hidup tak segan aku menolak  Entah bahagia maupun derita Semua kujalani penuh keyakinan  Perihal rasa pula adalah diksi terindah dalam puisi Dalam botol pikir ia kurangkul tersebab ia liar Kurangkai ia dengan bahasa hati yang sunyi Di sebuah ruang sejuta kata Lagu... Penuh sejuta indah nada-nadamu mewarnai   Lantunan lirikmu membawa makna tuk dirasakan  dalam jiwa Jika ditanya senandung favoritku Aku bangga menjawab Senandung Ibu yang meninabobokan Akhir-akhir ini juga aku mulai menyukai sebuah melodi Iya, melodi dari hati yang mewarnai hari Perasaanku tak lepas dari lantunan melodimu Yang selalu terbawa arus nada-nada  Dalam botol pikir senandung Ibu dan kamu  berirama Rasaku harap cemas menanti puisi dikemas Kupang, 21 Januari 2020

The Moon has Fallen in the Park

Image
Oleh: Dewi Lorenza In the night Silent without light My heart and mind are fight About still loving or learning to forget How did I meet the answer in the dark? The moon has fallen in the park On a pair of lovers who are flooded with happines I want to fly to write your name in the sky, but my wings is broken and I am very hopeless Will you be kind to come to my dreams? Make meeting as a arms Resolve discordance So that I sleep in peace. Kupang, 21 January 2020  

Mata Mbah Google

Image
Oleh:  Dewi Lorenza Sebelum bertanya Si Mbah perihal arti memimpikan seseorang, suatu malam aku begitu girang setelah menguping cerita kawan sebaya bahwa ketika kita memimpikan seseorang, orang yang di dalam mimpi kita tengah merindukan kita.   Malam-malam berikutnya aku rajin berdoa kepada Dia Pemberi Mimpi agar kamu yang menjadi mimpiku. Dengan begitu, bukankah begitu indah, ketika esoknya aku terbangun aku tersenyum sumringah sebab semalam aku tahu kau merindukanku. Lalu di suatu petang, ke pondok Mbah aku berkunjung, sembari menikmati kopi Mbah bercerita tentang Mimpi Nebukadnezar yang disingkap melalui penglihatan Daniel. Aku teringat cerita kawan sebaya.  Jangan bangga dia ada di mimpimu, bukan ia merindukanmu tetapi kamu yang terlalu menginginkan kehadirannya. Aku malas berdebat mana yang benar antara cerita Si Mbah dan Kawan Sebaya. Aku juga tidak lagi sibuk mendoakanmu ada dimimpiku. Aku lebih suka melangitkan pinta kamu ada di dunia nyataku dan kita bertemu hari...

Menu di Rumah Makan Bapak Sapardi

Image
Oleh:  Dewi Lorenza Aku dengan lahap menikmati sajak yang ditanak Bapak Sapardi. Beberapa potong paha kata tak luput dari kerakusanku. Kuahnya kuseduh abis. Ketika hendak kuambil sayur diksi segar yang ditumis, saudariku menatap sinis. Tidak pahit? Pertanyaan macam apa ini, adakah yang lebih menggoyang lidah dari diksi yang ditumis terasi. Bagaimana ini tidak menjadi menu favorit direstoran mahal di Indonesia yang hampir semuanya telah saudariku kunjungi? Tidak mau mengganggu ritual makanku, kuajak dia untuk ikut bersantap. Makanlah, biar engkau paham manisnya sayur diksi yang ditumis terasi. Kalau nanti aku menjadi koki, ini menu yang kusuguh tiap hari untuk anak negeri. Pelan-pelan dikunyahnya. Beberapa waktu kemudian, ia muntah dimabuk kata. Aku tersenyum riang, aku membenarkan perkataan siang; diksi yang ditumis terasi nutrisi terbaik untuk tubuh puisi.   Kupang, 19 Januari 2020

Pencernaan Kata

Image
Oleh:  Dewi Lorenza Saat kumakan kata, aku tersedak. Bukannya masuk di kerongkongan, ia malah melalui tenggorokan dan akhirnya menjadi rongsokan. Sampah bisa didaur ulang dan membeli uang; rongsokan kata tadi dipakai pikiran untuk dijadikannya puisi dengan bahasa hati yang sulit dimengerti. Tak ada cara lain, selain kau mengunyahnya tiga puluh dua kali sebelum benar-benar menelan. Sabar mengunyah dan selamat menikmati. Kata; nutrisi paling bergizi untuk tubuh puisi. Kupang, 19 Januari 2020

Terbang Terindah Sepasang Kekasih

Image
Oleh: Dewi Lorenza Selepas lepas landas empat menit lalu, sempat kita terbang mendayu. Kugenggam erat tanganmu, sebelum menukik itu membuat raga kita remuk. Sekarang, aku melihat sanak saudara panik. Aku melihat akhir dari kehidupan; kesedihan yang tak terangkai kata mendekap keluarga. Luka mendalam lebih dari dasar lautan di mana kita tenggelam. Sementara kita telah sampai pada puncak bahagia. Surga menjadi mahligai pernikahan paling sempurna. Rumah paling nyaman kita menua tanpa takut lagi tak selamanya bersama. Lafal kabulmu telah kekal, mengekal di tiap ruang rumah kita. Sebentar ya, kutanak sajak untuk mertua yang air matanya menganak sungai. Semoga kata menjelma obat ajaib penyembuh lara. " Untuk mertua tercinta berhenti berduka. Aku dan anakmu telah bahagia. Jujur, inilah terbang terindah untuk kami; sepasang kekasih baru. Maaf belum bisa berbakti dan memberimu cucu. Tetapi, tenanglah Yumna dan bayi lainnya telah menjadi anak-anak kami . Salam, Menantumu. Surga 2021 Kupang,...

Misteri Wafatnya Rindu

Image
Oleh:  Dewi Lorenza Setelah disiksa dan dibelenggu, rindu dipaku pada salib penantian. Aku meratap kala menatap. Rindu dipaku karena salahku; salah menaruh harap pada seseorang yang adaku tak dianggap. Saat petang hendak pulang, rindu diam-diam menyebut namamu; aku ingin bertemu, bisiknya. Lalu rindu menghela nafas panjang. Seketika hati diselimut sesak dan tirai mata terbuka. Tulusnya rindu luar biasa, datangnya bukan untuk dibenci tetapi patut kau syukuri sebab rindu menyelamatkan rasa yang tersembunyi. Adakah kini kau mengerti? Tidak apa-apa, biar saja saat ini kukubur rinduku kembali rapat-rapat. Rindu butuh rehat sejenak untuk bangkit dan tak lagi salah mendarat. Kupang, 17 Januari 2020

Secepatnya; Sedekat Nadi dan Mati

Image
Oleh:  Dewi Lorenza Aku terus bersajak supaya tak secuil niat beranjak ketika kau sibuk sesibuknya. Mencoba meredam ingin yang bergejolak. Aneh sudah pasti, sebab aku yang bukan siapa-siapa merasa harus menunggu meski menurutmu tak perlu. Mantra mana yang telah kau daraskan hingga aku terus bertahan? Atau langkahku yang tak sadar mengarah padamu? Tiada henti berpuisi agar tak sepi saat tak kudapati dirimu di sini. Mencoba menyembunyikan luka di balik kata. Hingga benar-benar terluka ketika lupa kau baca. Jika suatu hari puisi tak lagi berarti, kuharap kamu yang masih setia menikmati; mungkin yang lain telah bosan dengan ketidakpastian sajak-sajak penantian. Melelahkan ya, perdebatan logika dan hati tiap hari tak jua usai. Belum lagi antara aku dan saudari yang begitu mencintaiku, yang sangat menyayangi diri ini yang sudah jatuh dan kau malah makin menjauh. Aku suka Januari; mula mimpi bersemi, penuh imaji segala rencana jadi nyata, halu mampu bersatu, rindu akhirnya bertemu. Itu se...

Hingga Hidup Mawar Hirap?

Image
Oleh: Dewi Lorenza Diri didera duri rindu dari mawar di dada; yang harusnya mekar. Tetapi engkau biarkan sukar dengan hadirkan belukar. Aku di ujung lelah sendirian. Kadang, saat dengan semangat merawat, rerumput kau biarkan menghimpit. Tuan, bukan aku menginginkan, benih itu mungkin tidak sengaja kau jatuhkan dari kantong perhatian sewaktu berjalan berdampingan. Dan aku benci waktu itu peduli. Kian hari mawar dari benih yang tak sengaja kau jatuhkan tadi makin layu. Sayangnya, di dalamku tak melekat niat jahat untuk mencabutnya saja. Atau aku terlalu bodoh merawat dan membiarkannya tumbuh? Sejujurnya, aku tidak terlalu pandai memberi cahaya yang cukup saat harap di sekitar mawar itu redup. Masih tidak pedulikah engkau, Tuan? Sampai hatikah hingga gelap benar-benar mendekap; hidup sang mawar hirap. Kupang, 15 Januari 2020 Thanks for reading🌹❤

Generasi Komputer; Rasa

Image
Oleh:  Dewi Lorenza Sejak pertemuan pertama, rasa terlalu mudah membara; melebur ruang maya yang seharusnya membatasi aku kau. Demi sebuah kabar, daya dan data dengan sabar kukendalikan. Sebab, rasa terlalu besar hingga memerlukan ruang yang luas di hati. Ruang aksara  dikhususkan untukmu dan hanya peduli tentangmu dalam kata bahasanya sendiri. Jumpa kedua senja itu, telah lahir bahasa baru yang cukup sulit kupahami. Bahasa simbolik dari senyummu seringkali kusalahartikan. Dan pertemuan-pertemuan kemarin menjadi kerinduan teramat dalam hari ini. Bagaimana bisu bisa bicara, canda menjadi candu hingga tuli peka mendengar. Tetapi, tak kusadari satu hal; mataku sepertinya kurang jeli bahwasanya rasa itu berserak dimana-mana; tak cukup ruang aksaraku saja kau bersemayam. Terlalu berarti hadirmu hingga semua berlari ingin memiliki; tinggal aku sendiri hanya mampu mengagumi. Sekuat apa pun aku menggenggam suatu saat akan tenggelam. Dan sebaiknya cara melepas adalah mencoba ikhlas. Pu...

Garus Singgung; Hanya Mampu Kusentuh

Image
Oleh : Dewi Lorenza Kukira, adalah persamaan garis lurus ke hatimu, antara asa yang konstanta dan variabel rasa yang kujaga keseimbangannya. Bukankah dengan begitu, aku sampai dan menggapaimu dengan mudah?  Ternyata ialah garis singgung yang hanya mampu kusentuh. Sebetulnya, aku tak pernah diizin berteduh. Aku kau biarkan lelah dan berpeluh dalam rindu; sendirian. Saat kusangka tak lagi berjarak, dengan congkak kau berbelok padanya yang lebih elok. Pada titik yang kusangka dekat, kau cipta sekat penghancur semangat. Aku pernah dengan berani mencoba mengutarakan rasa yang kupikul berat dari barat, kulambungkan ke langit supaya bisa kau tatap, sebelum aku akhirnya benar-benar jatuh dipatahkan ingin hingga membeku dalam sikapmu yang dingin. Aku pernah bangga bercerita perihal kita, hingga kehilangan kata saat terluka melupa. Perihal kamu; puisi sejuta diksi, indah mungkin, namun sulit memahaminya sakit. Kupang, 13 Januari 2020